Headline Intermeso

Sejarah Bulan Februari, Dari Festival Pemurnian Dosa

Tes Dummy

EDUVUL.COM- Februari berasal dari kata Latin “Februa” yang berarti “Membersihkan”. Bulan itu dinamai berdasarkan Februalia Romawi yang merupakan festival pemurnian dan penebusan dosa selama sebulan yang berlangsung sepanjang tahun.

Sedangkan dilansir melalui Dictionary.com, sebelum diadopsi dengan nama Latin, Februari menggunakan bahasa Inggris Kuno yang menggambarkan bulan. Nama tersebut adalah Solmonath yang secara harfiah berarti “bulan lumpur”.

Pada awalnya Februari memang tak termasuk dalam susunan kalender Romawi yang hanya memiliki 10 bulan. Karena orang Romawi saat itu tak membatasi musim dingin.

Hingga akhirnya pada tahun 700-an SM, raja kedua Roma, Numa Pompilius mengubahnya dengan menambahkan Januari dan Februari ke akhir kalender. Hal tersebut dilakukannya usai menyesuaikan dengan berapa lama waktu yang dibutuhkan Bumi untuk mengelilingi Matahari.

Awalnya memang 1 Maret menjadi Hari Tahun Baru. Usai penghitungan dan keputusan Numa Pompilius, Tahun Baru 153 SM jatuh ke tanggal 1 Januari dan Februari menduduki posisi ke 2 dalam 12 bulan.

Alasan Februari Lebih Singkat Dibandingkan Bulan Lain

Seperti yang disebutkan sebelumnya alasan mengapa Februari lebih singkat dibandingkan bulan lain berhubungan dengan kalender Romawi. Laman The Conversation menjelaskan bila kalender Romawi Kuno pada awalnya hanya memiliki 10 bulan.

Kalender dibentuk berdasarkan waktu pertanian yang dimulai pada musim semi di bulan maret hingga berakhir 340 hari kemudian di bulan Desember. Karena tidak ada pekerjaan yang harus dilakukan di ladang selama musim dingin, sisa hari dalam setahun tidak dihitung dalam kalender.

Hingga akhirnya pada tahun 731 SM, Numa Pompilius memutuskan menyejajarkan kalender dengan fase bulan. Ia menemukan ada 12 siklus bulan setiap tahunnya, sehingga kalender dibagi menjadi 12 bulan.

Januari dan Februari ditambahkan dan tahun kalender baru berlangsung selama 355 hari. Satu fakta menarik yang ditemukan adalah Orang Romawi percaya bahwa angka genap berarti sial.

Hingga akhirnya ketika menyusun ia mengurangi satu hari dari masing-masing bulan yang terdiri dari 30 hari agar menjadi 29 hari. Karena mengamati bulan, Nima menemukan jumlah hari dalam satu tahun berjumlah 355 hari.

Dengan demikian ia memiliki 56 hari tersisa usai mengurangi satu hari setiap bulannya. Pada akhirnya, ia memutuskan setidaknya ada 1 bulan yang memiliki jumlah hari yang genap.

Hingga akhirnya Numa memilih Februari, bulan yang akan menjadi tuan rumah ritual Romawi untuk menghormati orang mati, sebagai bulan sial yang terdiri dari 28 hari. Karena itu pada bulan Februari di Roma adanya festival ritual penyucian dosa.

Pada hari itu, kerabat yang masih hidup akan membawa makanan dan hadiah ke kuburan untuk menghormati yang mati. Dengan hal itu mereka berharap agar yang sudah meninggal hidup bahagia sehingga tidak bangkit dan menghantui yang masih hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *