Headline Pustaka

Meganthropus Paleojavanicus: Penemu dan Ciri-ciri

EDUVUL.COM- Meganthropus paleojavanicus adalah manusia purba tertua di Indonesia. Berasal dari kata mega yang berarti besar dan anthropus artinya manusia. Kemudian paleo berarti tua dan Javanicus dengan arti berasal dari Jawa.  Nama tersebut berarti manusia besar dari Pulau Jawa. 

Meganthropus paleojavanicus diperkirakan hidup pada masa Pleistosen bawah atau kira-kira 2,5 juta tahun yang lalu.

Sejarah Penemuan Meganthropus Paleojavanicus

Dikutip dari Journal of the Medical Sciences yang diterbitkan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) Jilid VIII September 1976, Rektor/Ketua Senat UGM Sukadji Ranuwihardjo menyebutkan fosil Meganthropus paleojavanicus ditemukan pertama kali oleh arkeolog asal Jerman, Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald pada 1936 dan 1941.

Pada 1936 Koenigswald menemukan fragmen tulang rahang atas. Kemudian 1941, ia menemukan rahang bawah dan gigi-gigi lepas.Fosil meganthropus ditemukan di situs Sangiran, Sragen, Jawa Tengah, pada formasi Pucangan. 

Meganthropus adalah jenis manusia purba tersendiri, berbeda dengan Homo erectus.

Andi Sadriani, dkk dalam buku Sosiologi Antropologi Pendidikan (2023), menjelaskan manusia purba ini diberi nama Meganthropus paleojavanicus karena ukurannya yang sangat besar, bahkan melebihi ukuran gorilla, akan tetapi rahangnya menyerupai rahang manusia.

Setelah penemuan fosil Meganthropus, penggalian terus dilakukan. Namun fosil Meganthropus tidak dibarengi dengan penemuan sisa-sisa kebudayaannya, seperti perkakas atau peralatan-peralatan dalam lapisan tanah yang sama. Diperkirakan jenis ini belum memiliki kebudayaan, sehingga layak disebut primitif.

Meganthropus paleojavanicus bukanlah temuan pertama dari von Koenigswald. Sejak tahun 1934, ia telah berada di Sangiran menemukan dan beberapa spesimen Pithecanthropus mojokertensis. Pada tahun 1938, tujuh pecahan tengkorak yang ditemukan olehnya dibawa ke Beijing untuk diteliti.

Setelah kembali dari Beijing, von Koenigswald melanjutkan penelitiannya di Sangiran. Pada akhir tahun 1939, ia kembali menemukan spesimen yang agak unik. Namun, temuan ini tidak dipublikasikan karena kondisi kerja yang kurang memadai.

Pada bulan April 1941, sebuah fragmen rahang bawah dengan ukuran yang sangat besar ditemukan di Sangiran. Karakteristiknya yang berbeda dari fosil-fosil lainnya mendorong von Koenigswald untuk mengklasifikasikannya sebagai spesies baru, yaitu Meganthropus palaeojavanicus.

Meskipun von Koenigswald telah menyelesaikan naskah publikasi mengenai kedua spesimen tersebut pada musim semi 1942, sayangnya, naskah tersebut hilang dan tidak pernah diterbitkan.

Seperti yang kita ketahui, pada periode tersebut, dunia sedang dilanda Perang Dunia II. Di Indonesia, terjadi peralihan kekuasaan dari Belanda ke Jepang. Koenigswald dan keluarganya mengalami masa tahanan di berbagai kamp di Jawa selama beberapa tahun.

Mereka baru dibebaskan pada akhir tahun 1945. Pada musim panas 1946, keluarga von Koenigswald meninggalkan Jawa menuju New York. Von Koenigswald diizinkan membawa koleksi hominid berharga dari Jawa.

Beruntungnya, semua spesimen fosil tersebut selamat tanpa kerusakan karena disembunyikan oleh teman dan rekan sejawatnya. Hanya satu tengkorak Ngandong yang disita oleh militer Jepang dan dibawa ke Tokyo. Namun, setelah perang berakhir, tengkorak tersebut dikembalikan kepada von Koenigswald pada Desember 1946.

Berkat jasanya bagi dunia antropologi Indonesia, UGM memberikan gelar doktor honoris causa bagi von Koenigswald pada 26 Juni 1976.

Ciri-ciri Fisik Meganthropus Paleojavanicus

Dikutip dari buku Persamaan dan Perbedaan Manusia Purba dengan Manusia Modern: Sejarah Kelas X (2020) yang disusun Hasnawati T., S.Pd, beberapa ciri-ciri Meganthropus paleojavanicus adalah:

  • Memiliki badan tegap
  • Terdapat tonjolan tajam di belakang kepala
  • Pada bagian wajah, terdapat tulang pipi yang tebal
  • Terlihat tonjolan pada kening yang mencolok
  • Tidak berdagu
  • Otot kunyah, gigi, dan rahang berukuran besar dan kuat

Karakteristik Meganthropus Paleojavanicus

Masih dari sumber yang sama, Meganthropus paleojavanicus dikaitkan dengan golongan Australopithecus. Dari aspek non fisik, Meganthropus paleojavanicus memiliki karakteristik kehidupan yang masih primitif. Berikut ini sejumlah karakteristiknya:

  • Berasal dari masa Pleistosen awal (lapisan bawah), yakni hidup sekitar 2 hingga1 juta tahun yang lalu.
  • Tempat tinggalnya terbuka seperti padang rumput atau lingkungan semak-semak di hutan kayu.
  • Termasuk pemakan tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan, termasuk kacang, biji, dan umbi akar. Berdasarkan analisis dari pola pemakaian gigi, jenis manusia purba ini memakan buah-buahan dan dedaunan tanpa dimasak.
  • Namun dalam perkembangannya, mereka mulai memakan daging meski tak banyak, sehingga dapat diduga bahwa mereka sudah berburu binatang besar.
  • Peralatan yang digunakan masih sederhana, seperti tongkat dan batu-batuan tetapi bentuknya tidak diubah atau dimodifikasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *