Headline Pustaka

Kerajaan Mataram Kuno: Sejarah dan Daftar Raja Versi Lengkap

EDUVUL.COM- Kerajaan Mataram Kuno adalah salah satu kerajaan bercorak Hindu-Budha yang berdiri di wilayah Jawa Tengah dan kemudian pindah ke Jawa Timur.  Catatan dari sejumlah prasasti yang ditemukan, kerajaan ini berkembang sekitar abad ke-8 hingga abad ke-10 Masehi.

Lokasi Kerajaan Mataram Kuno dikelilingi oleh Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi-Merbabu, Gunung Lawu, dan Pegunungan Sewu. Daerah ini juga dialiri oleh Sungai Bogowonto, Sungai Progo, Sungai Elo dan Sungai Bengawan Solo. Itulah sebabnya daerah ini sangat subur.

Nah, sebutan Kerajaan Mataram Kuno sebenarnya untuk membedakan Kerajaan Mataram Hindu ini dengan  dengan Kerajaan Mataram Islam yang berdiri beberapa ratus tahun kemudian tepatnya pada abad ke-16 M. 

Kerajaan ini disebut juga Kerajaan Medang yang merupakan pembagian Kerajaan Kalingga untuk kedua anak Ratu Shima.

Baca Juga: Sejarah Bulan Februari, Dari Festival Pemurnian Dosa

Baca Juga: Pakar Budaya UI: Generasi Muda Etnis China Tak Lagi Terikat Trauma Politik

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno

Dikutip dari artikel yang berjudul  Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Kerajaan Mataram Kuno Abad IX-X M: Kajian Berdasarkan Prasasti dan Relief karya Naufal Raffi Arrazaq disebutkan pendiri Kerajaan Mataram Kuno adalah Sanjaya.

Berdasarkan Prasasti Canggal yang ditemukan di sekitar Candi Gunung Wukir, Salam, Magelang, Jawa Tengah, saat dinobatkan pada 717 M, Sanjaya mendapat gelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya yang artinya penguasa wilayah Mataram.

Hanya saja yang sampai sekarang belum dapat dituliskan dengan jelas adalah bagian permulaan kerajaan Mataram Kuno.

“Sayang sekali prasasti yang diharapkan dapat menjembatani fase sebelum Sanjaya dengan dimulainya masa Mataram Kuno, dengan Sanjaya sebagai rajanya, belum ditemukan hingga kini,” tulis Sugeng Riyanto dari Balai Arkeologi DI Yogyakarta dalam artikel Situs Liangan dalam Bingkai Sejarah Mataram Kuno yang dimuat dalam Jurnal Berkala Arkeologi Vol. 37 No. 2-November 2017.

Raja Kerajaan Mataram Kuno

Beberapa ahli menyebut Kerajaan Mataram Kuno diperintah oleh dinasti Sanjaya, dinasti Sailendra serta dinasti Isyana (didirikan Mpu Sindok setelah pindah ke Jawa Timur, awal abad ke-10).

Namun tak semua ahli bersepakat dengan pendapat tersebut. Sejumlah ahli menyebut hanya ada satu dinasti yang memerintah di kerajaan Mataram yaitu dinasti Sailendra. 

Adu dua sumber sejarah yang mengungkapkan daftar raja Kerajaan Mataram Kuno seperti yang dikutip dari artikel berjudul Raja-raja Mataram Kuna dari Sanjaya Sampai Balitung Sebuah Rekonstruksi Berdasarkan Prasasti Wanua Tengah III yang ditulis Kusen dari Arkeologi Universitas Gadjah Mada (UGM). 

Tulisan tersebut dimuat dalam jurnal Berkala Arkeologi Volume 14 No. 2, 1994. Sumber pertama dari Prasasti Wanua Tengah III berangka tahun 830 Caka atau 908 M. 

Prasasti dibuka dengan keterangan tentang seorang bernama Rahyangta i Hara adik  Rahyangta ri Mdang yang telah mendirikan bihara di Pikatan. Prasasti ini tidak menyebut nama Sanjaya. Namun menurut Kusen, Rahyangta ri Mdang merupakan sosok Sanjaya. 

  • Rakai Panangkaran 

Naik takhta pada 27 November 746

  • Rakai Panabaran

Naik takhta tanggal 1 April 784. 

  • Rakai Warak Dyah Manara  

Naik takhta tanggal 28 Maret 803. Raja ini telah mencabut status sima sawah di Wanua Tengah. 

  • Dyah Gula

Naik takhta 5 Agustus 827

  • Rakai Garung 

Naik takhta tanggal 24 Januari 828. Pada tahun 829. dia mengembalikan sawah tersebut kepada bihara di Pikatan. 

  • Rakai Pikatan Dyah Saladu 

Naik takhta tanggal 22 Februari 847. Raja ini mencabut status sima sawah di Wanua Tengah

  • Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala 

Naik takhta tanggal 27 Mei 855. Dia tidak mengubah status sawah. 

  • Dyah Tagwas 

Naik takhta tanggal 5 Februari  885 Dia tidak merubah status sawah. Dia digullngkan dari singgasananya.

  • Rakai Panumwangan Dyah Dewendra 

Naik takhta tanggal 27 September 885. Raja ini tidak merubah status sawah. Rakai Panumwangan juga digulingkan dari kekuasannya.

  • Rakai Gurunwangi Dyah Bhadra 

Naik takhta tanggal 27 Januari 887 Dikatakan dalam prasasti bahwa dia lari meninggalkan istana (minggat) pada tanggal 24 Februari 887. Setelah Dyah Bhadra meninggalkan istana, kerajaan tidak ada yang memerintah selama 7 tahun.

  • Rakai Wungkalhumalang Dyah Jbang 

Naik takhta tanggal 27 November 894. Dia tidak mengubah status sawah di Wanua Tengah.

  • Rakai Watukura Dyah Balitung 

Naik takhta tanggal 23 Mei 898. Mahamantrinya adalah Rakryan i Hino Sri Daksottama Pada tahun 904, Balitung memerintahkan agar semua bihara di Jawa dijadikan swatantra. Pada tanggal 1 Oktober 908, Balitung bersama-sama dengan mahamantrinya memberikan sawah di Wanua.

Daftar raja Kerajaan Mataram Kuno versi Prasasti Mantyasih yang berangka tahun 907 M.

  • Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya
  • Rakai Panangkaran 
  • Rakai Panunggalan atau Panaraban (Prasasti Wanua Tengah III)
  • Rakai Warak Dyah Manara.  
  • Rakai Garung 
  • Rakai Pikatan Dyah Saladu
  • Rakai Kayuwangi 
  • Rakai Watuhumalang atau Wungkalhumalang (Prasasti Wanua Tengah III)
  • Rakai Watukura Dyah Balitung 

Menurut Kusen, perbedaan daftar nama raja-raja dalam prasastI Mantyasih dengan Wanua Tengah Ill 908 disebabkan perbedaan latar belakang dikeluarkannya prasasti.

Prasasti Mantyasih diterbitkan Rakai Watukura Dyah Balitung dalam rangka melegitimasikan dirinya sebagai pewaris takhta yang sah. Sehingga yang dicantumkan hanya para raja yang berdaulat penuh atas seluruh wilayah kerajaan. 

Dyah Gula, Dyah Tagwas, Dyah Dewendra dan Dyah Sadhra tidak dimasukkan dalam daftar karena mereka tidak pernah berdaulat penuh atas wilayah kerajaan. Hal ini terlihat dan singkatnya masa pemerintahan mereka karena digulingkan.

Prasasti Wanua Tengah Ill dikeluarkan Balitung dalam kaitannya dengan perubahan status sawah di Wanua Tengah, sehingga semua penguasa yang mempunyai sangkut paut dengan perubahan status sawah dimasukkan dalam daftar. 

Nama Sanjaya sebagai pendiri Kerajaan Mataram Kuno tidak disebut karena riwayat sawah di Wanua Tengah baru dimulai dari masa Rakai Panangkaran.

Kemudian setelah kekuasaan Dyah Balitung dari prasasti ditemui nama Sri Maharaja Sri Daksottama, lalu Sri Maharaja Rakai Layang Dyah Tulodhong, kemudian Sri Maharaja Rakai Sumba Dyah Wawa, dan Sri Maharaja Mpu Sindok.

Mpu Sindok memindahkan ibu kota Mataram Kuno ke Jawa Timur. Mpu Sindok kemudian digantikan Sri Lokapala dan Ratu Sri Isanatunggawijaya, lalu Makutawangsawardhana, dan akhirnya Dharmawangsa Teguh. Raja-raja ini disebut sebagai Dinasti atau Wangsa Isyana.

Jika penjelasan di atas digabungkan, berikut daftar raja Mataram Kuno baik saat berada di Jawa Tengah maupun Jawa Timur.

Raja-raja Maratam Kuno

  • Sanjaya
  • Rakai Panangkaran 
  • Rakai Panabaran
  • Rakai Warak Dyah Manara
  • Dyah Gula
  • Rakai Garung 
  • Rakai Pikatan Dyah Saladu 
  • Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala
  • Dyah Tagwas
  • Rakai Panumwangan Dyah Dewendra 
  • Rakai Gurunwangi Dyah Bhadra 
  • Rakai Wungkalhumalang Dyah Jbang 
  • Rakai Watukura Dyah Balitung 
  • Sri Maharaja Sri Daksottama atau Raja Daksa
  • Maharaja Rakai Layang Dyah Tulodhong
  • Sri Maharaja Rakai Sumba Dyah Wawa
  • Sri Maharaja Mpu Sindok
  • Sri Lokapala dan Ratu Sri Isanatunggawijaya
  • Makutawangsawardhana
  • Dharmawangsa Teguh

Letak Kerajaan Mataram Kuno

Letak kerajaan Mataram Kuno berada di Jawa bagian tengah dan timur. Pada awalnya, yaitu sejak masa Sanjaya, ibu kota kerajaan ini berada di Poh Pitu, yang diduga berada di Jawa Tengah selatan, antara Kedu (Magelang) dan Yogyakarta. 

Kemudian pada masa kekuasaan Rakai Panangkaran (760-780 M), pusat pemerintahan dipindahkan ke arah timur. Beberapa dekade yakni pada masa  pada kekuasaan Rakai Pikatan (840-856 M) dari sumber prasasti terlihat bahwa ibu kota telah berada di Mamrati.

Saat Dyah Balitung (berkuasa 898-915 M), ia memindahkan lagi ke Poh Pitu dan berikutnya kembali ke Bhumi Mataram (sekitar Yogyakarta), saat kerajaan berada di tangan Dyah Wawa (924 M). 

Di awal abad ke-10, Mpu Sindok memindah ibu kota Kerajaan Mataram Kuno ke Jawa Timur, yaitu tahun 929 M. Berdasar prasasti Turyyan (851 Saka/929 M), ibu kota waktu itu berada di Tamwlang. 

Pada akhir masa kerajaan Medang ini, ibukota berada di Watugaluh, sebagaimana disebut dalam Prasasti Anjukladang dan Prasasti Paradah. Toponim ini masih ada di dekat Jombang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *