Headline Kuliah

Kenapa Banyak Orang Indonesia Makan Nasi? Begini Kata Antropolog UI

EDUVUL.COM- Nasi merupakan makanan pokok bagi orang Inddonesia. Makan seolah tak lengkap tanpa hadirnya nasi di meja makan. Kebiasaan orang Indonesia makan nasi itu rupanya berakar dari kebijakan masa lampau.  

Guru besar Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) Prof Dr Semiarto Aji Purwanto persoalan pangan bukan sebatas persoalan biologis, tetapi juga persoalan budaya.

Kebiasaan makan, seperti konsumsi nasi ataupun roti, menunjukkan peristiwa budaya yang sangat dekat dengan keseharian.

Nah EDUVULIAN, menurut Dekan FISIP UI  yang akrab disapa Mas Aji itu makanan pokok orang Indonesia terpusat pada nasi yang bersumber dari beras karena kebijakan pangan di masa lalu.

Baca juga: Beasiswa S1-S3 dari Kemendikbudristek untuk Pelaku Budaya, Ini Persyaratannya

Baca juga: Anak Usia di Bawah 6 Tahun Bisa Ikut PPDB SD, Asal…

“Kebijakan homogenitas pangan di masa lalu mengakibatkan makanan pokok masyarakat Indonesia terpusat pada beras,” ujarnya dalam Webinar bertema “Quo Vadis Ketahanan Pangan, Gizi, dan Budaya Konsumsi?”.

Webinar ini diselenggarakan oleh Komisi IV (Pengembangan Peran Universitas Indonesia di Masyarakat) Dewan Guru Besar UI beberapa waktu lalu.

Padahal seharusnya aktivitas konsumsi, terdapat beragam pengalaman makan yang disebut sebagai khazanah rasa. Singkatnya, khazanah rasa menjadi kekayaan rasa yang diekspresikan secara berbeda di berbagai daerah.

Terpusatnya makanan pada nasi membuat khazanah rasa jadi terkikis. “Oleh karena itu, anak muda saat ini perlu ikut bertanggung jawab dengan mengubah kembali kebiasaan dan pola makan, sehingga khazanah rasa dapat muncul kembali di masyarakat,” ujar Aji.

Dalam kesempatan yang sama Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid, PhD menjelaskan, ada homogenisasi selera konsumsi pangan pada beras di RI selama 30 tahun terakhir.

Di sisi lain, konsumsi gandum di Indonesia mengalahkan konsumsi beras, sementara RI tidak memproduksi gandum sebanyak beras. “Masalah (ketahanan pangan) muncul ketika kita bergantung pada pangan tersebut,” kata Hilmar.  

Guna mengatasi hal ini, ia menilai perlu desentralisasi pangan berdasarkan diversifikasi pangan di Indonesia melalui penguatan pengetahuan dan kebudayaan lokal. 

“Perguruan tinggi berperan sangat sentral bersama masyarakat di tingkat akar rumput untuk keperluan pangan,” ujar Hilmar.

Ia menambahkan,”Oleh karena itu, perlu adanya pengenalan kembali produk-produk lokal, serta kolaborasi antara produsen pangan dan ahli gastronomi untuk menghasilkan karya yang dapat diterapkan di komunitas lokal.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *