Headline Pustaka

Api Berwujud Gas, Cair, atau Padat? Begini Jawabannya

EDUVUL.COM- Api telah menjadi teknologi mutakhir sejak zaman pra-sejarah, digunakan manusia untuk berbagai keperluan mulai dari menakuti predator hingga memasak makanan. Pada zaman Yunani Kuno, kesadaran muncul bahwa api memiliki sifat yang berbeda dari benda padat, gas, atau cair.

Sejarah tidak dapat mencatat kapan manusia mulai mempertanyakan wujud api, pertanyaan yang hingga kini belum terjawab. Api dikenal sebagai reaksi kimia dari beberapa elemen yang mengalami pembakaran, menghasilkan panas dan cahaya, sebagaimana disampaikan oleh Education in Chemistry.

Doktor kimia dari University of Pennsylvania, Amerika Serikat, Ian Farrell, menyatakan dalam artikelnya bahwa api yang menyala banyak memiliki sifat mirip gas, di mana tidak memiliki bentuk atau volume tetap. Namun, api juga dapat mengembang dan menyusut seiring dengan perubahan oksigen dalam bara api.

Baca juga: Hewan Axolotl yang Lucu dan Unik, Masuk Golongan Amfibi atau Ikan Ya?

Baca juga: Lari Jarak Pendek: Pengertian dan Teknik Dasar

Meskipun begitu, ada satu sifat gas yang tidak dimiliki api, yaitu kemampuan mengembang dan mengisi wadah. Faktanya, api tidak mampu memenuhi volume wadah, sehingga dikategorikan bukan sebagai gas.

Bagaimana dengan cairan? Wujud zat cair tidak sesuai dengan sifat api yang dapat mengembang dan menyusut. Meskipun keduanya mampu mempertahankan bentuk, perbedaan terletak pada volume yang tetap dimiliki zat cair, sedangkan api tidak memiliki volume yang konstan.

Mengenai wujud padat, meskipun keduanya mampu mempertahankan bentuk, kita tidak dapat menyentuh api. Namun, jika benar api berwujud padat, seharusnya kita bisa menyentuhnya tanpa merasakan sakit.

Alasan lain yang membuat api tidak masuk dalam tiga kategori wujud zat di atas adalah kemampuannya padam saat bahan bakar atau oksigen habis.

Jadi, api berwujud apa sebenarnya? Ketika tidak dapat dikategorikan sebagai gas, cair, atau padat, api disebut sebagai materi keempat, yaitu plasma. Plasma terbentuk saat atom atau molekul gas terionisasi, di mana inti atom dan elektron bergerak bebas.

Meskipun plasma tidak sepenuhnya sesuai dengan sifat nyala api, beberapa nyala api panas mengandung plasma karena energi yang cukup untuk mengionisasi molekul udara. Sebagai contoh, nyala api hasil pembakaran asetilena dalam oksigen mencapai suhu 3100 derajat Celsius, sementara nyala api lilin bersuhu 1500 derajat Celsius dianggap terlalu rendah untuk dianggap sebagai plasma.

Meskipun kita belum dapat menjawab dengan pasti bentuk sejati api, pemahaman bahwa ada materi keempat, plasma, memberikan perspektif baru mengenai keberagaman alam semesta. Fisikawan terus menjelajahi materi modern untuk menjelaskan fase-fase materi yang diamati dalam laboratorium.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *